Api Mentari

Just another WordPress.com site

Resensi Novel Inspiratif “Negeri 5 Menara”

Satu lagi novel inspiratif karya anak bangsa, “Negeri 5 Menara” yang ditulis oleh Ahmad Fuadi. Bagi yang belum pernah membaca, novel ini dikategorikan Best Seller lho.. Buktinya novel ini sudah belasan kali cetak ulang sejak pertama terbitan tahun 2009 sampai saat ini.

Novel ini merupakan buku pertama, dari trilogi kisah hidup seorang santri yang diilhami dari kisah nyata yang dialami penulis sendiri. Penulis, Ahmad Fuadi, kebetulan santri alumni Pondok Gontor Ponorogo yang pernah memperoleh delapan beasiswa dan pernah berprofesi sebagai wartawan Tempo.

Kisah dimulai dari perantauan seorang anak keturunan Minang bernama Alif yang “terpaksa” mengikuti keinginan kedua orang tua untuk melanjutkan sekolah ke pesantren di Jawa.  Padahal anak tersebut berencana melanjutkan ke SMA terfavorit di Kota Padang dan berharap dapat lebih mengasah kecerdasan yang diatas rata-rata pelajar di kota Padang untuk menggapai cita-cita polosnya menjadi orang seperti Habibie. Dengan hati yang bercampur antara rasa marah & kecewa dengan orang tua berlawanan dengan rasa birul walidain (berbakti kepada orang tua), akhirnya Alif “nekad” memilih pesantren Pondok Madina di Ponorogo Jawa Timur (istilah Pondok Gontor yang digunakan dalam novel).

Alif yang sudah diterima di Pondok Madina dan memulai kehidupan sebagai seorang santri Pondok Madina harus menerima kenyataan tidak menyenangkan saat diberi tahu bahwa dia harus sekolah selama 4 tahun, padahal untuk tingkat SMA hanya ditempuh 3 tahun, sebuah hal yang menurut dia saat itu cukup membuang waktu. Dan yang lebih menyakitkan adalah lulus dari Pondok Madina tidak mendapat sertifikat, karena filosofi idealis Pondok Madina bahwa menuntut ilmu itu harus ikhlas mengabdi kepada Alloh bukan niatan duniawi demi ijazah/gelar semata.

Diceritakan dalam novel kehidupan Alif di Pondok Madina yang harus mandiri, disiplin, dan prihatin. Mandiri, karena harus hidup jauh dari perhatian orang tua di Padang, bahkan sering telat menerima kiriman uang karena kemampuan orang tuanya yang terbatas. Disiplin, karena wajib tepat waktu dalam kehidupan Pondok. Pondok mengatur kegiatan bangun jam 4 pagi sampai jam 10 malam yang full kegiatan. Kegiatan teratur setiap harinya dimulai dari sholat berjamaah, belajar bahasa inggris, belajar bahasa arab, belajar pelajaran SMA, olahraga/mengikuti ekstrakurikuler, membaca al-quran, berlatih Pidato dalam bahasa arab/inggris, mencuci, hingga harus bergiliran melakukan ronda malam. Membayangkan banyaknya kegiatan tersebut memang sungguh ketat, bahkan apabila terlambat 1 menit saja, akan diberikan hukuman oleh para senior.

Setelah beberapa bulan mengarungi kehidupan santri Pondok Madina, Alif mulai merasakan nikmat dan maanfaat menuntut ilmu Illahi yang lengkap dunia dan akhirat. Perasaan kesal dan marah karena dipaksa orang tua mulai hilang, berganti dengan rasa syukur yang sangat. Dalam Novel diceritakan peristiwa saat seorang anak yang jauh dari orang tua, berbulan-bulan lamanya tidak berkomunikasi dengan orang tua (terutama terhadap ibunya), akhirnya secara sadar memohon maaf kepada orang tuanya yang ditandai dengan dikirimnya surat pertama kalinya. Peristiwa tersebut digambarkan cukup mengharukan.

Alif kemudian beranjak menjadi seorang santri yang menguasai bahasa Inggris dan Arab dengan baik, mampu berorasi dengan menggetarkan hati audiencenya termasuk tamu-tamu dari Kedutaan Asing. Alif dihadapkan dengan beberapa pilihan hidup yang sulit, menjadi seorang santun yang Paham Agama atau terus melanjutkan pendidikannya berusaha menggapai cita-citanya menjadi seperti Habibie..

Godaan tersebut semakin bertambah ketika sahabat dekat dan “saingan belajar” di Padang, senantiasa memanas-manasi Alif dengan enaknya kehidupan SMA dan Kuliah di ITB yang merupakan cita-cita Alif.

Namun, Alif tidak sendirian menghadapi kisah hidupnya ini, dia memiliki sahabat-sahabat karib dari berbagai daerah Indonesia yang senantiasa sama-sama saling membantu, mengingatkan, memotivasi, dan memberi solusi. Keakraban mereka menjadikan mereka dijuluki Sohibul Menara, karena suka berkelompok dan senantiasa berkumpul di Menara Masjid Pondok Madina.

Dalam novel pun dikisahkan perjalanan kebersamaan geng Sohibul Menara, baik kisah kejahilan, toleransi, persahabatan, dan keteladanan para personil Sohibul Menara.

Setelah membaca novel ini, setidaknya penikmat novel dapat merasakan aura, antara lain:

  1. Merasakan lingkungan dan suasana sebuah Pesantren Modern yang seolah-olah kita berada disana, sehingga terbersit ingin rasanya mengalami kehidupan Pesantren Modern itu.
  2. Merasa tersindir, karena pernah/sering mengalami konflik dengan orang tua. Dari perasaan marah/kesal hingga akhirnya merasa bersalah yang sangat. Sebuah instrospeksi mendalam hingga ingin rasanya mengucap maaf dan terima kasih kepada orang tua.
  3. Merasa terbakar semangat untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Dengan semangat pembelajaran yang dialami Alif di Pondok Madina, tampaknya pembaca tersindir kembali bahwa banyak orang yang memiliki keahlian dan ilmu yang lebih baik dari kita yang tampaknya mustahil untuk dicapai.
  4. Merasakan optimif yang sangat, karena semangat cerita novel ini merupakan novel pencitraan siapa yang berusaha keras dan sungguh-sungguh, Insyaalloh terwujud cita-citanya, semangat ini yang ditularkan oleh Penulis yaitu semangat Man Jadda Wa Jada, siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Dalam istilah lain, orang sukses itu bukan dilahirkan, tapi diciptakan dengan proses usaha keras.

Insyaalloh, novel ini dapat menghidupkan kembali jiwa-jiwa kita yang lelah dengan segala keduniawian sering kali menyesakkan dada, menggantinya dengan semangat baru penuh keoptimisan :) Amiiin..

Beli senar di Jakarta Pusat,

Bukan senar gitar Bass,

Pintar itu bukan bakat,

Pintar itu hasil kerja keras.

 

Mexes naik pesawat dari Roma ke Doha,

Totti sudah nunggu di bandara,

Sukses didapat tidak cuma berdoa,

Tapi ditambah ilmu dan usaha.

Info lebih lanjut dapat dibaca di http://negeri5menara.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: